Berita
Mengapa Bandung Terasa Panas Belakangan Ini? Empat Faktor Penyebabnya
Kota Bandung yang dikenal sejuk belakangan ini terasa jauh lebih panas, dengan suhu udara yang bisa mencapai lebih dari 32°C. Menurut BMKG Kelas 1 Bandung, kondisi ini dipicu oleh kombinasi beberapa faktor, mulai dari minimnya tutupan awan, kelembapan tinggi, masa peralihan musim, hingga dampak perkembangan wilayah perkotaan.
- Tanggal terbit
- Waktu baca
- 1 menit baca
Bagi warga Bandung, rasa gerah di siang hari kini menjadi keluhan yang makin sering terdengar. BMKG Kelas 1 Bandung menjelaskan setidaknya empat faktor utama di balik fenomena ini:
Minimnya tutupan awan. Langit yang cerah membuat radiasi matahari langsung menembus ke permukaan bumi tanpa penghalang. Akibatnya, sinar UV terasa sangat menyengat.
Kondisi gerah atau ngelekeb. Perpaduan suhu tinggi dan kelembapan udara yang tinggi membuat panas seolah terperangkap, sehingga tubuh terasa gerah dan tidak nyaman.
Puncak kemarau dan transisi musim. Kondisi ini tergolong wajar terjadi menjelang masa peralihan musim atau saat puncak kemarau.
Faktor perkotaan (Urban Heat Island). Bertambahnya pemukiman, berkurangnya ruang terbuka hijau, dan emisi kendaraan bermotor turut menaikkan rata-rata suhu udara tahunan di Bandung secara bertahap.
Ibaratnya, Bandung saat ini seperti mobil yang diparkir di bawah terik matahari dengan jendela tertutup: panas masuk dengan mudah, tetapi sulit keluar.
Agar tetap nyaman beraktivitas, masyarakat dapat melakukan langkah sederhana berikut:
Minum air putih yang cukup sepanjang hari.
Gunakan topi, payung, atau pakaian yang menutupi kulit saat beraktivitas di luar ruangan.
Batasi paparan langsung sinar matahari pada siang hari.
Cuaca panas ini merupakan fenomena alam yang diperkuat oleh perubahan lingkungan perkotaan. Dengan memahami penyebabnya, kita dapat lebih siap menjaga kesehatan sekaligus lebih peduli terhadap kelestarian ruang hijau di sekitar kita. Ikuti informasi dan berita terbaru lainnya di https://appftm.unjani.ac.id.


